Sejarah

Makam Raja-Raja Imogiri memiliki akar sejarah yang dalam, terkait dengan berdirinya Kerajaan Mataram Islam pada abad ke-17. Kompleks makam ini didirikan pada tahun 1645 M oleh Sultan Agung Hanyokrokusumo (memerintah 1613-1645), raja pertama Kerajaan Mataram Islam yang terkenal sebagai penyatuan Jawa dan penyebar Islam di tanah Jawa. Awalnya, Sultan Agung berencana membangun makam di Bukit Giriloyo. Namun, karena Panembahan Juminah (paman Sultan Agung) yang ditugaskan mengawasi pembangunan meninggal dunia dan dimakamkan di sana sebelum makam selesai, Sultan Agung memindahkan lokasi pemakaman pribadinya ke Bukit Merak. Pemilihan lokasi di tempat yang tinggi (Imogiri, dari kata hima/kabut dan giri/gunung) sejalan dengan kepercayaan masyarakat Jawa pra-Islam (Hindu-Buddha) yang memandang tempat tinggi sebagai kediaman arwah leluhur. Sultan Agung sendiri menjadi raja pertama yang dimakamkan di Imogiri pada tahun 1645 Masehi.

MsGiyanti

Pembagian Makam Pasca Perjanjian Giyanti

Perkembangan paling signifikan terjadi setelah Perjanjian Giyanti pada tahun 1755 yang membagi Kerajaan Mataram Islam menjadi dua, yaitu Kasultanan Yogyakarta dan Kasunanan Surakarta. Akibat perjanjian ini, kompleks Makam Imogiri pun dibagi menjadi dua area kekuasaan untuk raja-raja dan keluarga kedua keraton:

  1. Sisi Timur: Diperuntukkan bagi Raja-Raja dan keturunan Kasultanan Yogyakarta (seperti Kedaton Kasuwargan, Kedaton Besiyaran, dan Kedaton Saptarengga).
  2. Sisi Barat: Diperuntukkan bagi Raja-Raja dan keturunan Kasunanan Surakarta (seperti Kedaton Pakubuwanan, Kedaton Astana Luhur, dan Kedaton Girimulya).
  3. Area Tengah: Merupakan makam utama yang menjadi peristirahatan terakhir bagi Sultan Agung.
Gemini_Generated_Image_qeqg0yqeqg0yqeqg

Jejak Kakiku

Google Maps

Alamat

Karang Kulon, Wukirsari, Kec. Imogiri, Kabupaten Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta 55782

Jam operasional

Buka Setiap Hari. Pukul 08.00 – 16.00 WIB